Menemukan Kebahagiaan Melalui Perspektif Positif
Oleh Shawn Achor
Ketika Shawn Achor berusia tujuh tahun dan adik perempuannya, Amy, baru berusia lima tahun, mereka bermain di atas tempat tidur bertingkat. Sebagai kakak yang dua tahun lebih tua, Shawn merasa berhak memutuskan permainan apa yang akan mereka mainkan—dan hari itu, ia memilih bermain perang. Di sisi tempat tidurnya, Shawn mengatur barisan prajurit dan senjata G.I. Joe, sementara di sisi Amy, berbaris My Little Pony yang siap menyerbu.
Namun, sebuah insiden tak terduga terjadi. Amy, dengan gaya khas anak-anak yang sedikit ceroboh, terjatuh dari atas tempat tidur. Ia mendarat di lantai dengan posisi tangan dan lutut, kesakitan. Shawn tahu bahwa tangisan Amy akan membangunkan orang tua mereka—yang baru saja memulai istirahat mereka. Dalam usaha menghindari bencana ini, Shawn memanfaatkan kreativitasnya dan berkata, “Amy, tunggu. Jangan menangis. Tahukah kamu? Tidak ada manusia yang bisa mendarat seperti itu. Amy, aku rasa kamu adalah unicorn.”
Keajaiban terjadi. Bukannya menangis, wajah Amy tersenyum lebar, dan ia kembali naik ke tempat tidur dengan semangat baru, seperti seekor bayi unicorn dengan satu kaki patah.
Pelajaran dari Peristiwa Sederhana
Apa yang terjadi pada Amy hari itu sebenarnya adalah salah satu momen yang menjadi dasar revolusi dalam cara kita memahami otak manusia. Peristiwa tersebut menunjukkan bagaimana cara pandang terhadap sebuah situasi dapat mengubah respon seseorang, bahkan dalam situasi yang sulit sekalipun. Inilah inti dari psikologi positif, sebuah pendekatan yang kemudian menjadi landasan penelitian Shawn Achor.
Menggeser Fokus dari Negatif ke Positif
Dalam perjalanan hidupnya, Shawn mulai memahami bahwa cara kita memandang dunia membentuk kenyataan kita, lebih dari sekadar realitas eksternal itu sendiri. Ia menemukan bahwa kebahagiaan tidak ditentukan oleh keadaan eksternal, melainkan oleh cara otak kita memproses dunia. Bahkan, hanya 10% dari kebahagiaan jangka panjang seseorang dipengaruhi oleh faktor eksternal. Sisanya, 90%, ditentukan oleh bagaimana otak memandang dunia tersebut.
Penelitian Shawn menunjukkan bahwa otak yang berada dalam kondisi positif bekerja jauh lebih baik dibandingkan saat berada dalam kondisi negatif, netral, atau stres. Ketika seseorang merasa bahagia, produktivitasnya meningkat 31%, kemampuan menjualnya naik 37%, dan dokter bahkan 19% lebih cepat serta akurat dalam mendiagnosis.
Mengubah Formula Kebahagiaan
Kebanyakan dari kita diajarkan bahwa jika kita bekerja keras, kita akan sukses, dan jika kita sukses, kita akan bahagia. Namun, formula ini keliru. Sebab, setiap kali kita mencapai kesuksesan, standar kesuksesan itu berubah. Kebahagiaan terus tertunda di cakrawala.
Shawn menawarkan pendekatan baru: Jika kita dapat meningkatkan kadar positif seseorang saat ini, otaknya akan bekerja lebih sukses. Dopamin yang dilepaskan oleh kebahagiaan tidak hanya membuat seseorang merasa lebih baik, tetapi juga membuka pusat-pusat pembelajaran di otak, memungkinkan adaptasi dan inovasi.
Latihan Membangun Kebahagiaan
Dalam penelitiannya, Shawn menemukan bahwa kebiasaan sederhana dapat membantu melatih otak untuk lebih optimis dan sukses. Berikut adalah langkah-langkahnya:
- Tulis Tiga Hal yang Disyukuri Setiap Hari: Selama 21 hari, tuliskan tiga hal baru setiap hari yang membuat Anda bersyukur. Ini membantu otak untuk memprioritaskan hal-hal positif.
- Jurnal tentang Pengalaman Positif: Tuliskan satu pengalaman positif setiap hari untuk membiarkan otak Anda mengulang kembali momen tersebut.
- Berolahraga: Aktivitas ini mengajarkan otak bahwa tindakan Anda memengaruhi hasil.
- Meditasi: Latihan ini membantu otak mengatasi gangguan dan fokus pada tugas saat ini.
- Lakukan Tindakan Kebaikan: Kirimkan email atau pesan positif kepada seseorang dalam jaringan sosial Anda setiap hari.
Dampak Psikologi Positif
Dengan mengubah cara kita memandang kebahagiaan dan keberhasilan, Shawn Achor percaya kita dapat menciptakan revolusi kebahagiaan. Tidak hanya untuk individu, tetapi juga untuk organisasi, sekolah, dan masyarakat secara keseluruhan. Ketika kita berhenti menghapus “outlier” positif dan mulai mempelajarinya, kita bisa menginspirasi pergeseran yang lebih besar—bukan hanya meningkatkan rata-rata, tetapi mengangkat seluruh tingkat kebahagiaan dan produktivitas.
Seperti yang ditunjukkan Amy saat menjadi “unicorn” kecil, kebahagiaan dan keberhasilan dimulai dengan cara kita memilih untuk melihat dunia. Dan pilihan itu ada di tangan kita.
Kesimpulan
Dengan langkah-langkah sederhana untuk melatih otak dan mengubah perspektif, kita bisa menciptakan kebahagiaan yang bukan hanya bersifat sementara, tetapi juga bertahan lama. Sebuah perubahan kecil pada cara pandang kita bisa membawa dampak besar pada kehidupan kita dan orang-orang di sekitar kita.